Sabtu 28 Februari 2026 - 12:26
Syarah Doa | Jalan Menuju Kemenangan Abadi menurut Pandangan Al-Qur'an

Hawzah/«اللهمّ اجْعلنی فیهِ من المُتوکّلین علیکَ واجْعلنی فیهِ من الفائِزینَ لَدَیْکَ واجْعلنی فیهِ من المُقَرّبینَ الیکَ بإحْسانِکَ یا غایَةَ الطّالِبین», "Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang bertawakal kepada-Mu, jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang beruntung di sisi-Mu, dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang didekatkan kepada-Mu dengan karunia-Mu, wahai Tujuan akhir para pengharap."

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari kesepuluh bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kesepuluh bulan Ramadan beserta artinya:

«اللهمّ اجْعلنی فیهِ من المُتوکّلین علیکَ واجْعلنی فیهِ من الفائِزینَ لَدَیْکَ واجْعلنی فیهِ من المُقَرّبینَ الیکَ بإحْسانِکَ یا غایَةَ الطّالِبین»

"Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang bertawakal kepada-Mu, jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang beruntung di sisi-Mu, dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang didekatkan kepada-Mu dengan karunia-Mu, wahai Tujuan akhir para pengharap."

Orang yang berpuasa dalam doa ini memohon tiga hal kepada Allah Swt.

Pada bagian pertama doa ini kita membaca: «اللهمّ اجْعلنی فیهِ من المُتوکّلین علیکَ», "Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang bertawakal kepada-Mu."

Permohonan pertama yang diajarkan dalam doa ini adalah tentang tawakal. Namun, realitasnya, banyak manusia yang lalai dari hal ini. Mereka lebih percaya pada akal dan perencanaan diri mereka sendiri, atau berharap pada uluran tangan makhluk, tanpa menyandarkan harapan mereka kepada Sang Pencipta. Orang-orang yang seperti ini tidak akan pernah sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya. Karena tidak ada tempat bergantung yang sejati selain Allah, Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Keyakinan kita sebagai muslim adalah bahwa tidak ada satu kekuatan pun di alam semesta ini yang bergerak kecuali dengan izin dan pertolongan Allah. Sebagaimana kaidah tauhid menegaskan: «لا مُؤثّرَ فی الوجود الا الله», "Tidak ada satu pun yang memberi pengaruh di alam semesta ini selain Allah."

Hanya Allah pemilik mutlak segala kekuatan dan hasil. Dialah satu-satunya Dzat yang berhak disandari, karena bersandar kepada-Nya adalah kunci ketenangan hati dan keberhasilan hakiki. Dan Dialah pemilik kehendak mutlak dan penguasa tunggal alam semesta. Namun, betapa banyak manusia yang terlena, mengagungkan para raja dan penguasa seolah-oleh mereka pemilik kekuasaan. Kelak, di hari pembalasan, Allah akan bertanya, "Siapakah yang memiliki kekuasaan pada hari ini?" Maka semua makhluk, dari yang pertama hingga yang terakhir, akan menjawab dengan suara lirih namun penuh keyakinan, "Itu milik Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa." (QS. Ghafir: 16)

Jawaban yang akan diberikan pada hari kiamat kelak itu, seharusnya sudah diucapkan oleh semua orang sejak hari ini. Jika seseorang memilih Allah sebagai sandarannya, maka ia tidak akan takut dan gentar kepada siapa pun.

Barangsiapa yang tidak bertawakal kepada Allah, maka ia bukanlah seorang yang bertauhid, dan tauhidnya tidak sempurna. Karena tauhid memiliki beberapa manifestasi dan makna, di antaranya: keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pengatur alam semesta, keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Pemilik segala kekayaan alam, keyakinan bahwa hanya Allah yang layak dicintai, serta keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan haram menyembah selain-Nya. Ini adalah lima dari berbagai manifestasi tauhid.

Apa Makna Tauhid Af'ali Allah Swt?

Tauhid af'ali adalah keyakinan bahwa setiap perbuatan dan kejadian di alam semesta ini terjadi, kecuali dengan kehendak dan kekuatan dari Allah Swt. Bahkan, dosa yang dilakukan oleh para pendosa pun terjadi dengan memanfaatkan kemampuan yang Allah Swt berikan. Apabila Allah Swt berkehendak untuk mencabut kemampuan itu dari seorang kafir yang hendak membunuh orang yang teraniaya, maka satu kehendak-Nya saja sudah cukup. Jika Allah tidak menghendaki, pedang Ibrahim tidak akan mampu memotong leher Ismail, dan api tidak akan mampu membakar Ibrahim.

Terkadang api tidak membakar, namun di saat yang sama, air yang merupakan sumber kehidupan justru menenggelamkan Firaun yang mengaku sebagai tuhan. Semua ini adalah manifestasi dari kehendak Ilahi dan keyakinan kepada tauhid, dan inilah hakikat tawakal. Dalam al-qur'an surat Al-Baqarah ayat 117, Allah berfirman: «وَ إِذا قَضي‌ أَمْراً فَإِنَّما يَقُولُ لَهُ کُنْ فَيَکُونُ», "Dan apabila Dia menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia." Dan Allah Swt dalam Surah Ali 'Imran ayat 154 berfirman: «إِنَّ الْأَمْرَ کُلَّهُ لِلَّهِ», "... Sesungguhnya segala urusan sepenuhnya milik Allah." Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam dalam Nahjul Balaghah bersabda: «من توکل علیه کفاه و من ساله اعطاه و من اقرضه قضاه و من شکر جزاه»,"la memberi kepada orang yang meminta kepada-Nya. la cukup bagi orang yang bersandar kepada-Nya. la memberi pahala kepada orang yang bersyukur kepada-Nya."

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, seluruh mukmin diperintahkan untuk bertawakal. Allah Swt. dalam Surah Al-Mā'idah ayat 23 berfirman: «وَ عَلَي اللَّهِ فَتَوَکَّلُوا إِنْ کُنْتُمْ مُؤْمِنينَ», "Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang beriman." Demikian pula dalam Surah Ali 'Imran ayat 122: «وَ عَلَي اللَّهِ فَلْيَتَوَکَّلِ الْمُؤْمِنُونَ», "Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal."

Rasulullah Saw bersabda: Aku bertanya kepada Jibril, "Apa makna tawakal kepada Allah?" Jibril menjawab: "Engkau menyakini bahwa seluruh makhluk — siapa pun mereka — tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk menimpakan bahaya kepadamu, tidak pula mampu mendatangkan manfaat bagimu. Mereka tidak memiliki kuasa memberimu nikmat, dan tidak berdaya mencegahnya jika Allah menghendakinya."

Tawakal adalah memutus segala harapan dari makhluk. Maka, ketika seseorang telah mencapai derajat keyakinan ini, ia tidak lagi berbuat sesuatu untuk siapa pun selain Allah, tidak berharap kepada siapa pun selain-Nya, tidak takut kepada siapa pun selain-Nya, dan tidak menggantungkan hati dan dirinya kepada siapa pun selain-Nya. Inilah makna tawakal yang sesungguhnya. Pada bagian kedua doa ini disebutkan: «واجْعلنی فیهِ من الفائِزینَ لَدَیْکَ», "Dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang beruntung di sisi-Mu."

Apa Arti Keberuntungan dan Kemenangan Sejati?

Apakah uang, kesehatan, keamanan, dan hal-hal duniawi lainnya merupakan kebahagiaan sejati? Maka harus kita katakan: Tidak. Hal-hal tersebut memang baik, namun bila kita memilikinya, itu tidak serta-merta berarti kita telah meraih kemenangan yang hakiki.

Jalan menuju kebahagiaan sejati itu beragam. Jika kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita orang yang beruntung, maka kita harus mengetahui faktor-faktor pencapainya dan memohon taufik untuk dapat mengamalkannya. Lantas, apa saja amalan yang dalam pandangan Al-Qur'an menyebabkan seseorang meraih kemenangan?

Faktor pertama yang menyebabkan seseorang layak meraih kemenangan adalah iman dan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa, serta hijrah di jalan-Nya. Allah Swt dalam Surah At-Taubah ayat 20 berfirman: «الَّذينَ آمَنُوا وَ هاجَرُوا وَ جاهَدُوا في‌ سَبيلِ اللَّهِ بِأَمْوالِهِمْ وَ أَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَ أُولئِکَ هُمُ الْفائِزُونَ», "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."

Melawan dan sabar dalam menghadapi dosa, problematika hidup, dan kesulitan adalah faktor lainnya yang menyebabkan seseorang layak meraih keberuntungan. Allah Swt. dalam Surah Al-Mu'minūn ayat 111 berfirman: «إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِما صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفائِزُونَ», "Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang."

Ketaatan kepada Allah dan Rasul, rasa takut kepada Allah, ketakwaan, serta meninggalkan dosa adalah faktor-faktor yang membuat seseorang layak meraih keberuntungan. Allah Swt dalam Surah An-Nūr ayat 52 berfirman: «وَ مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ وَ يَخْشَ اللَّهَ وَ يَتَّقْهِ فَأُولئِکَ هُمُ الْفائِزُونَ», "Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan."

Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang layak meraih keberuntungan adalah jihad dan tidak lari dari medan perang. Allah Swt dalam Surah An-Nisā' ayat 73 berfirman: «وَ لَئِنْ أَصابَکُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ کَأَنْ لَمْ تَکُنْ بَيْنَکُمْ وَ بَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يا لَيْتَني‌ کُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزاً عَظيماً», "Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: ""Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)."

Mendahului dan bersegera dalam amal-amal kebaikan serta mengikuti (Allah dan Rasul) adalah faktor lain yang menyebabkan seseorang layak meraih keberuntungan. Dalam Surah At-Taubah ayat 100, Allah berfirman: «وَ السَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهاجِرينَ وَ الْأَنْصارِ وَ الَّذينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَ رَضُوا عَنْهُ وَ أَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْري تَحْتَهَا الْأَنْهارُ خالِدينَ فيها أَبَداً ذلِکَ الْفَوْزُ الْعَظيمُ», "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."

Menjual (Mengorbankan) diri kepada Allah Swt adalah faktor lain dari meraih kemenangan. Allah Swt dalam Surah At-Taubah ayat 111 berfirman: «إِنَّ اللَّهَ اشْتَري‌ مِنَ الْمُؤْمِنينَ أَنْفُسَهُمْ وَ أَمْوالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقاتِلُونَ في‌ سَبيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَ يُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْراةِ وَ الْإِنْجيلِ وَ الْقُرْآنِ وَ مَنْ أَوْفي‌ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِکُمُ الَّذي بايَعْتُمْ بِهِ وَ ذلِکَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظيمُ», "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."

Faktor lainnya adalah menjauhkan diri dari keburukan (sayyi'āt) dan menjauhi segala yang buruk. Dalam Surah Ghāfir ayat 9, Allah berfirman: «وَ قِهِمُ السَّيِّئاتِ وَ مَنْ تَقِ السَّيِّئاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَ ذلِکَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظيمُ», "dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar."

Pada bagian ketiga doa yang mulia ini disebutkan: «واجْعلنی فیهِ من المُقَرّبینَ الیکَ»,"Dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang didekatkan kepada-Mu"

Kata "qurb" (kedekatan/ dekat) di sini bukanlah dekat secara fisik atau karena memiliki hubungan darah (nasab). Seseorang mungkin saja memiliki ikatan kekerabatan dengan para nabi dan imam, namun secara spiritual ia mungkin tidak mendapat berkah dari mereka. Bahkan seorang anak kandung nabi sekalipun bisa terhalang dan jauh dari rahmat Allah jika tidak mengikuti petunjuk mereka.

Dalam Surah At-Tahrīm ayat 10, Allah berfirman: «ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذينَ کَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَ امْرَأَتَ لُوطٍ کانَتا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبادِنا صالِحَيْنِ فَخانَتاهُما فَلَمْ يُغْنِيا عَنْهُما مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَ قيلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلينَ», "Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, yaitu istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (azab) Allah. Dan dikatakan (kepada keduanya): 'Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).'"

Sebaliknya, ada orang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Ahlulbait, namun karena ketulusan dan ketaatannya yang luar biasa, ia dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka. Salman Al-Farisi adalah contoh terbaik. Beliau adalah seorang Persia, bukan dari bangsa Arab. Namun, Rasulullah SAW bersabda tentangnya: «سلمان منا اهل البیت», "Salman adalah bagian dari kami, Ahlulbait."

Maka dari sini kita belajar bahwa jalan menuju kedekatan (taqarrub) kepada Allah adalah dengan mengikuti petunjuk Allah, Rasul-Nya, dan Ahlulbait as., bukan sekadar mengklaim hubungan atau garis keturunan. Kedekatan hakiki diukur dengan sejauh mana kita melangkah di jalan mereka, bukan seberapa dekat hubungan darah kita dengan mereka.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha